1.1.
Tahu
Orang yang tahu disebut orang memiliki pengetahuan.
Pengakuan sesuatu terhadap sesuatu disebut putusan sehingga dalam dasarnya
putusan dan pengetahuan itu sama. Dasar pengetahuan itu disebut subyek dan yang
diakui terhadap subyek itu disebut
predikat. Persesuaian antara pengetahuan dan objeknya itulah disebut kebenaran.
Kebenaran ialah kesesuaian antara tahu dengan obyeknya, kebenaran ini ada yang
menyebut pula objetivitas jadi
pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Orang yang hendak tahu harus sadar,
jadi kesadaran itu memang ada, bahkan mutlak bagi pengetahuan. Karena yang tak
sadar tentu tak tahu. Kebenaran obyektif disebut juga kebenaran logis. Karena
menyangkut persesuaian obyek dengan pengetahuan.
Dalam
ilmu yang diutamakan ialah kebenaran logis dan itu memang tujuannya. Orang yang
berkeyakinan harus ada cukup alasan, bahwa pengetahuannya sesuai dengan
obyeknya maka dia mempunyai kepastian.
Sangsi dalam bahasa kita harus dibedakan dengan
peraturan orang ragu-ragu adalah orang yang tidak berani mengadakan suatu
putusan untuk bertindak. Sedangkan sangsiadalah sikap mental terhadap suatu
kebenaran yang belum dapat diyakini kebenarannya
Kepercayaan adalah sikap mental atas
dasar kepastian bahwa ada kebenaran, tetapi kebenaran yang diselidiki sendiri
1.2. Pengetahuan.
Orang
yang tahu disebut orang memiliki pengetahuan. Pengakuan sesuatu terhadap
sesuatu disebut putusan sehingga dalam dasarnya putusan dan pengetahuan itu
sama. Dasar pengetahuan itu disebut subyek dan yang diakui terhadap subyek itu disebut predikat. Persesuaian antara
pengetahuan dan objeknya itulah disebut kebenaran. Kebenaran ialah kesesuaian
antara tahu dengan obyeknya, kebenaran ini ada yang menyebut pula objetivitas jadi pengetahuan benar
adalah pengetahuan obyektif. Orang yang hendak tahu harus sadar, jadi kesadaran
itu memang ada, bahkan mutlak bagi pengetahuan. Karena yang tak sadar tentu tak
tahu. Kebenaran obyektif disebut juga kebenaran logis. Karena menyangkut
persesuaian obyek dengan pengetahuan.
Dalam
ilmu yang diutamakan ialah kebenaran logis dan itu memang tujuannya. Orang yang
berkeyakinan harus ada cukup alasan, bahwa pengetahuannya sesuai dengan
obyeknya maka dia mempunyai kepastian.
Sangsi
dalam bahasa kita harus dibedakan dengan peraturan orang ragu-ragu adalah orang
yang tidak berani mengadakan suatu putusan untuk bertindak. Sedangkan
sangsiadalah sikap mental terhadap suatu kebenaran yang belum dapat diyakini
kebenarannya
Kepercayaan
adalah sikap mental atas dasar kepastian bahwa ada kebenaran, tetapi kebenaran
yang diselidiki sendiri.
1.3.
Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan biasa adalah pengetahuan
yang dipergunakan orang, terutama untuk
hidupnya sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang sedalam-dalam dan
seluas-luasnya ---- tidak mengetahui sebabnya demikian dan apa sebabnya harus
demikian.
Ilmu dalam pengetahuan itu yang
menghasilkan guna bagi yang tahu itu atau bagi umat manusia pada umumnya,
kemudian tujuan yang pertama ialah tahu yang mendalam, sedapat mungkin tahu
benar, apa sebabnya demikian dan mengapa harus demikian.
Sifat ilmiah :
a) jika
mau benar maka ilmu itu harus sesuai dengan obyeknya . jadi itulah sifat ilmiah yang pertama.
b) persesuain
antara pengetahuan dan obyeknya itu (kebenaran) mungkin disana sini dicapai
secara kebetulan. Tetapi biasanya tidaklah demikian. Cara untuk mencari
kebenaran dalam ilmu ini disebut metodos, dari kata Yunani “Hodos” yaitu cara atau jalan. Sifat ilmiah
yang kedua : ilmu harus bermetodos.
c) Kebenaran
hendak dicapai dalam ilmu itu, jika
nanti sudah tercapai, merupakan keputusan, yang dirumuskan secara tertentu
pula. Putusan yang mengutarakan
pengetahuan tentang satu persatu, jadi yang khusus, biasanya bukanlah
dicita-citakan ilmu. Akan tetapi mencari yang umumlah ilmu itu ! sifat ilmiah
ini : ilmu sedapat mungkin harus universal. Kebenaran tentang suatu obyek .
d) Kebenaran
tentang suatu obyek dalam keseluruhan yang telah dirumuskan secara baik dan
jitu merupakan pengetahuan umum. Susunan dari hal yang ada hubungannya satu
sama lain dan merupakan keseluruhan ini disebut sistem. Sifat ilmiah ini : ilmu
haruslah bersistem.
Dengan demikian jika pengetahuan hendak
disebut ilmu, maka haruslah : berobyektivitas, bermetodos, universal, dan
bersistem.
Cara kerja ilmiah menurut Rene Descrates
(1569-1649) diantaranya :
1) Janganlah
sekali-kali, menerima sesuatu sebagai kebenaran, jika tidak ternyata
kebenarannya dengan terang benderang dengan sungguh-sungguh haruslah kita
membuang segala prasangka, dan janganlah campurkan apapun juga yang tak nampak
sejelas-jelasnya, hingga tak ada dasar sedikitpun juga untuk sangsi.
2) Bagilah
segala dan setiap kesulitan sesempurna sempurnanya dan carilah jawaban
secukupnya.
3) Aturlah
pikiran dan pengetahuan kita demikian rupa, sehingga kita mulai dari yang
paling mudah dan sederhana, kemudian meningkat dari sedikit, setapak demi
setapak untuk mencapai pengetahuan yang lebih sukar dan lebih ruwet.
4) Buatlah
pengumpulan fakta sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya dan
seumum-umumnya hingga menyeluruh, sampai kita tak khawatir kalo ada yang
kelewatan.
Demi keyakinan ahli ilmu bahwa mencari
kebenaran ini tidak mudah, maka dengan tekun dicarilah metodos dari tiap-tiap
ilmu. Dengan pendek tugas ilmiah yang
harus dilakukan orang untuk mencari kebenenaran terdiri dari :
a) Pengumpulan
fakta.
b) Deskripsi
fakta.
c) Pemilihan
atau klasifikasi.
d) Analisa.
e) Pengambilan
kesimpulan dan perumusannya.
Hipotesa penyelidik demi kerendahan hati
ilmiah haruslah tidak segera mengatakan, bahwa ia mencapai kebenaran.
Kesimpulannya itu merupakan disebut hipotesa atau teori.
Induksi adalah jalan pikiran sampai
keputusan umum dari putusan yang sifatnya khusus .
Deduksi adalah jalan pikiran sampai
keputusan khusus dari putusan yang sifatnya umum.
Hukum alam adalah dari beberapa gejala
alam, bagaimanapun banyaknya gejala itu, tentulah belum semua gejala dialami,
maksudnya suatu keharusan karena tertentukan oleh alam itu sendiri. Hukum alam
itu tidak memustahilkan adanya kejadian istimewa yang bertentangan dengan hukum
alam, karena mungkin ada kekuasaan diluar alam, yang sebagai pengecualian, menimbulkan
kejadian luar biasa.
Macam macam ilmu :
1) Ilmu
alam ialah ilmu yang berobyek fakta alam.
2) Ilmu
social ialah menyelidiki fenomena yang dalam terjadinya banyak sedikitnya
terpengaruhi oleh kehendak manusia.
Obyek material dan objek formal. Dalam
obyek yang sama maka lapangan penyelidikan itu disebut obyek material sedangkan
sudut darimana obyek materia itu disebut obyek forma.
Pengetahuan Supra ilmiah adalah ilmu
yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya sampai diluar dan diatas
pengalaman.
Definisi filsafat ialah ilmu yang
mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu dan mungkin ada.
Sejarah nama filsafat dari kata Yunani
filosofia, kata perangkai dari kata “filein” yang berarti cinta dan “sofia”
kebijaksanaan. Jadi menurut namanya saja filosofia atau filsafat berarti cinta
kepada bijaksana.
Nama lain dari filsafat :
1) Pandangan
Dunia
2) Metafisika.
Sejarah
nama-nama filsafat ini dari kata Yunani filofilsafat. Sofia, kata berangkai
dari kata filien yang berarti cinta dan sofia “ kebijaksanaan.Jadi menurut
namanya saja filosofia tau filsafat
berarti cintakepada kebijak sanaan . dan
orangnya di sebut filosofos yang artinya kebijaksanaan.nama ini di beri arti
dengan tegas oleh ahli piker yunani Sokrates (469-399) terutama untuk menentang
kaum sofis, yang menamai dirinya para bijaksan (sofos). Sokrates bermaksud,
bahwa ia dan penganut-penganutnya bukan orang yang sudahbijasana dan telah mencapi pengetahuan sejati
(pengetahuan yang benara),
melainkan hanya mencintai kebijaksanaan, dari pada itu berusaha mencarai
kebijaksanaan itu.
Bagian-bagian
Filsafat
1. Ontologia
2. Theologianatu
3. Cosmologi
4. Anthropologia
5. Ethica
6. Logica
1.3.
Ilmu, Filsafat, dan Agama
Filsafat
dan ilmu ada hubungannya, karena di dalam filsafat penyelidikan yang
dilakukannya mulai dari apa yang
dilakukan manusia, karena tidak ada pengetahuan, pengetahuan itu sendiri
berawal dari ilmu, maka harus berhubungan dulu dengan indra. Sedangkan ilmu
yang hendak menelaah hasil pengindraan itu tidak mungkin mengambil keputusan
dengan menjalankan pikiran tanpa mempergunakan dalil dan hukum pikiran yang
tidak mungkin dialaminya. Sebaliknya filsafat pun memerlukan data ilmu. Jika
ahli filsafat hendak menyelidiki dan hendak menentukan apakah manusia itu, ia
harus mengetahui gejala tindakan manusia. Dalam hal ini dibutuhkan yang namanya
ilmu Psikologi yang akan menolong filsafat itu sebaik-baiknya dengan hasil
penyelidikan.
Ada
alat penerangan lain selain Budi, yaitu
Agama yang biasa disebut Wahyu.adapun hal Agama ini amat sulit juga
menentukannya. Dalam pandangan ini ditegaskan, bahwa yang dimaksudkan Agama
ialah Keseluruhan pendapat tentang Tuhan,
Dunia, Hidup, dan Mati, Tingkah laku serta Baik-buruknya yang berlandaskan
Wahyu. Yang dimaksudkan Wahyu ialah Penerangan Tuhan secara istimewa kepada
manusia, entah secara langsung, entah secara tidak langsung (Misalnya mmelalui
wakil atau uusannya). Dalam ikhtisar ini
jelas ada hal-hal yang merupakan kebenaran Agama menjadi bagian Filsafat,
Misalnya teodicea atau teologia naturalis dan juga etika.
1.4.
Persoalan Pengetahuan
Dalam hal ini yang paling dianggap
penting adalah soal kebenarannya dan serta bagaimana manusia mencapai
pengetahuan itu. Dimana ada pengetahuan harus ada obyeknya, namun para ahli
filosuf tidak semua menerima semua pernyataan tersebut. Dengan faktanya bahwa
pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu pengetahuan khusus (mengenai yang khusus,
satu per satu, berubah-ubah dan tidak tetap) dan pengetahuan umum (mengenai
yang umum, jadi seluruh macamnya, tidak satu per satu, sifatnya tetap, tidak
berubah).
Pendapat
para ahli :
1.
Herakleitos (535-475)
Oleh karena alam, sumber pengetahuan dan
dari pada itu obyek pengetahuan juga, semuanya tak tetap,dan berubah, makan
pengetahuan yangb sifatnya berubah-ubah dan tidak tetap itulah yang sesuai
dengan obyeknya, jadi pengetahuan khususlah yang benar. Karena pengetahuan ini
dicapai orang melalui indra.
2.
Paramenides (540-475)
Dia berpendapat bahwa pengetahuan
umumlah yang benar, yang disebutnya pengetahuan budi. Pengetahuan budi ini
memang sesuai dengan obyeknya, sebab alam itu tetap, yang ada, bukan menjadi.
3.
Plato (427-347)
Merupakan murid sokrates (469-399) yang
amat mementingkan pengamatan. Menurut sokrates pengetahuan yang benar yang
sifatnya tetap dan berlaku umum. Ia mengatakan bahwa pengamatan melalui indra
itu merupakan jalan untuk mencapai pengetahuan yang disebutnya sejauh ini. Ini
menjadi pegangan teguh bagi plato.
Menurut plato manusia terdiri dari dua
hal, yaitu badan dan jiwanya. Jiwa itu dahulu ada di dunia idea dan oleh karena
itu dikenal akan idea-idea yang ada disana dengan sesungguhnya, kemudian
bersatu dengan badan sehingga merupakan manusia. Aliran plato disebut idealisme
realistis.
4.
Aristoteles
Menurut dia yang sungguh ada (realitas)
adalah yang kongkrit, yaitu hal yang satu per satu dengan sifatnya yang
tertentu. Pengetahuan yang kongkrit itu memang hasil pengetahuan indra
sedangkan pengetahuan yang umum dihasilkan melalui indra juga tetapi dengan
pengolahan lebih lanjut oleh manusia.
Pertentangan
antara pengetahuan umum (budi) dan pengetahuan khusus (indra). Ada dua dua
pendapat yang saling berhadapan : ada yang mengatakan bahwa pengetahuan budi
yang benar, sedangkan dilain pihak ad pula yang mengatakan, bahwa hanya
pengetahuan indra saja yang benar. Seorang ahli pikir bangsa Jerman Immanuel
Kant pengamatan dalah syarat mutlak bagi pengetahuan, isi dari pengetahuan baik
yang khusus maupun yang umum dari objek, tetapi
bentuknya dari subjek.
Beberapa aliran yang terkenal serta berpengaruh dalam
filsafat dewasa ini:
a.
Idealisme ini berkembang di negara Jerman terutama diutarakan oleh filsuf
J.G. Ficht (1762-1814). Idealism e Ficht ada yang lebih suka menamai
subjektivisme, karena objek itu adanya demi subjek. Dalam umunya idealism ini
mengurangi atau menghilangkan realitas dunia sehingga walaupun secara tidak
langsung mengurangi atau menghilangkan kebenaran pengetahuan khusus
b.
Positivisme
ini di pelopori oleh A. Comte (1798-1857). Cara pendekatan ini hanya yang
positif dapat dialami saja yang benar, ilmu yang tidak positi atau negatif itu
bukan ilmu yang sebenarnya. Inilah yang membuat kebalikan dari idealisme,
positivisme disini hanya mengakui nilai pengertahuan indra.
c.
Materialisme
adalah pendekatan pandangan secara positif yang amat dekat kepada pandangan
yang timbul. Pengetahuannya ialah pengelaman, arah tujuannya ialah cenderung
alamnya, cenderung akan hidup.
d.
Sekarang
ini yang di persoalkan ada tidaknya objek itu, maka aliran ini memperoleh nama idealisme disatu pihak dan realism belaka atau materalisme di lain pihak. Idealism mengingkari
realitas alam, materialisme hanya menerima realitas alam, alam itu satu-satunya realitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar