Selasa, 03 Juni 2014

Tahu dan pengetahuan



1.1. Tahu
Orang yang tahu disebut orang memiliki pengetahuan. Pengakuan sesuatu terhadap sesuatu disebut putusan sehingga dalam dasarnya putusan dan pengetahuan itu sama. Dasar pengetahuan itu disebut subyek dan yang diakui terhadap subyek itu  disebut predikat. Persesuaian antara pengetahuan dan objeknya itulah disebut kebenaran. Kebenaran ialah kesesuaian antara tahu dengan obyeknya, kebenaran ini ada yang menyebut  pula objetivitas jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Orang yang hendak tahu harus sadar, jadi kesadaran itu memang ada, bahkan mutlak bagi pengetahuan. Karena yang tak sadar tentu tak tahu. Kebenaran obyektif disebut juga kebenaran logis. Karena menyangkut persesuaian obyek dengan pengetahuan.
            Dalam ilmu yang diutamakan ialah kebenaran logis dan itu memang tujuannya. Orang yang berkeyakinan harus ada cukup alasan, bahwa pengetahuannya sesuai dengan obyeknya maka dia mempunyai kepastian.
Sangsi dalam bahasa kita harus dibedakan dengan peraturan orang ragu-ragu adalah orang yang tidak berani mengadakan suatu putusan untuk bertindak. Sedangkan sangsiadalah sikap mental terhadap suatu kebenaran yang belum dapat diyakini kebenarannya
Kepercayaan adalah sikap mental atas dasar kepastian bahwa ada kebenaran, tetapi kebenaran yang diselidiki sendiri
1.2. Pengetahuan.
Orang yang tahu disebut orang memiliki pengetahuan. Pengakuan sesuatu terhadap sesuatu disebut putusan sehingga dalam dasarnya putusan dan pengetahuan itu sama. Dasar pengetahuan itu disebut subyek dan yang diakui terhadap subyek itu  disebut predikat. Persesuaian antara pengetahuan dan objeknya itulah disebut kebenaran. Kebenaran ialah kesesuaian antara tahu dengan obyeknya, kebenaran ini ada yang menyebut  pula objetivitas jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Orang yang hendak tahu harus sadar, jadi kesadaran itu memang ada, bahkan mutlak bagi pengetahuan. Karena yang tak sadar tentu tak tahu. Kebenaran obyektif disebut juga kebenaran logis. Karena menyangkut persesuaian obyek dengan pengetahuan.
Dalam ilmu yang diutamakan ialah kebenaran logis dan itu memang tujuannya. Orang yang berkeyakinan harus ada cukup alasan, bahwa pengetahuannya sesuai dengan obyeknya maka dia mempunyai kepastian.
Sangsi dalam bahasa kita harus dibedakan dengan peraturan orang ragu-ragu adalah orang yang tidak berani mengadakan suatu putusan untuk bertindak. Sedangkan sangsiadalah sikap mental terhadap suatu kebenaran yang belum dapat diyakini kebenarannya
Kepercayaan adalah sikap mental atas dasar kepastian bahwa ada kebenaran, tetapi kebenaran yang diselidiki sendiri.
1.3. Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan biasa adalah pengetahuan yang dipergunakan orang,  terutama untuk hidupnya sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang sedalam-dalam dan seluas-luasnya ---- tidak mengetahui sebabnya demikian dan apa sebabnya harus demikian.
Ilmu dalam pengetahuan itu yang menghasilkan guna bagi yang tahu itu atau bagi umat manusia pada umumnya, kemudian tujuan yang pertama ialah tahu yang mendalam, sedapat mungkin tahu benar, apa sebabnya demikian dan mengapa harus demikian.
Sifat ilmiah :
a)      jika mau benar maka ilmu itu harus sesuai dengan obyeknya .  jadi itulah sifat ilmiah yang pertama.
b)      persesuain antara pengetahuan dan obyeknya itu (kebenaran) mungkin disana sini dicapai secara kebetulan. Tetapi biasanya tidaklah demikian. Cara untuk mencari kebenaran dalam ilmu ini disebut metodos, dari kata Yunani  “Hodos” yaitu cara atau jalan. Sifat ilmiah yang kedua : ilmu harus bermetodos.
c)      Kebenaran hendak dicapai dalam ilmu itu,  jika nanti sudah tercapai, merupakan keputusan, yang dirumuskan secara tertentu pula.  Putusan yang mengutarakan pengetahuan tentang satu persatu, jadi yang khusus, biasanya bukanlah dicita-citakan ilmu. Akan tetapi mencari yang umumlah ilmu itu ! sifat ilmiah ini : ilmu sedapat mungkin harus universal. Kebenaran tentang suatu obyek .
d)     Kebenaran tentang suatu obyek dalam keseluruhan yang telah dirumuskan secara baik dan jitu merupakan pengetahuan umum. Susunan dari hal yang ada hubungannya satu sama lain dan merupakan keseluruhan ini disebut sistem. Sifat ilmiah ini : ilmu haruslah bersistem.
Dengan demikian jika pengetahuan hendak disebut ilmu, maka haruslah : berobyektivitas, bermetodos, universal, dan bersistem.
Cara kerja ilmiah menurut Rene Descrates (1569-1649) diantaranya :
1)      Janganlah sekali-kali, menerima sesuatu sebagai kebenaran, jika tidak ternyata kebenarannya dengan terang benderang dengan sungguh-sungguh haruslah kita membuang segala prasangka, dan janganlah campurkan apapun juga yang tak nampak sejelas-jelasnya, hingga tak ada dasar sedikitpun juga untuk sangsi.
2)      Bagilah segala dan setiap kesulitan sesempurna sempurnanya dan carilah jawaban secukupnya.
3)      Aturlah pikiran dan pengetahuan kita demikian rupa, sehingga kita mulai dari yang paling mudah dan sederhana, kemudian meningkat dari sedikit, setapak demi setapak untuk mencapai pengetahuan yang lebih sukar dan lebih ruwet.
4)      Buatlah pengumpulan fakta sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya dan seumum-umumnya hingga menyeluruh, sampai kita tak khawatir kalo ada yang kelewatan.

Demi keyakinan ahli ilmu bahwa mencari kebenaran ini tidak mudah, maka dengan tekun dicarilah metodos dari tiap-tiap ilmu.  Dengan pendek tugas ilmiah yang harus dilakukan orang untuk mencari kebenenaran terdiri dari :
a)      Pengumpulan fakta.
b)      Deskripsi fakta.
c)      Pemilihan atau klasifikasi.
d)     Analisa.
e)      Pengambilan kesimpulan dan perumusannya.
Hipotesa penyelidik demi kerendahan hati ilmiah haruslah tidak segera mengatakan, bahwa ia mencapai kebenaran. Kesimpulannya itu merupakan disebut hipotesa atau  teori.
Induksi adalah jalan pikiran sampai keputusan umum dari putusan yang sifatnya khusus .
Deduksi adalah jalan pikiran sampai keputusan khusus dari putusan yang sifatnya umum.
Hukum alam adalah dari beberapa gejala alam, bagaimanapun banyaknya gejala itu, tentulah belum semua gejala dialami, maksudnya suatu keharusan karena tertentukan oleh alam itu sendiri. Hukum alam itu tidak memustahilkan adanya kejadian istimewa yang bertentangan dengan hukum alam, karena mungkin ada kekuasaan diluar alam, yang sebagai pengecualian, menimbulkan kejadian luar biasa.
Macam macam ilmu :
1)      Ilmu alam ialah ilmu yang berobyek fakta alam.
2)      Ilmu social ialah menyelidiki fenomena yang dalam terjadinya banyak sedikitnya terpengaruhi oleh kehendak manusia.
Obyek material dan objek formal. Dalam obyek yang sama maka lapangan penyelidikan itu disebut obyek material sedangkan sudut darimana obyek materia itu disebut obyek forma.
Pengetahuan Supra ilmiah adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya sampai diluar dan diatas pengalaman.
Definisi filsafat ialah ilmu yang mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu dan mungkin ada.
Sejarah nama filsafat dari kata Yunani filosofia, kata perangkai dari kata “filein” yang berarti cinta dan “sofia” kebijaksanaan. Jadi menurut namanya saja filosofia atau filsafat berarti cinta kepada bijaksana.
Nama lain dari filsafat :
1)      Pandangan Dunia
2)      Metafisika.
Sejarah nama-nama filsafat ini dari kata Yunani filofilsafat. Sofia, kata berangkai dari kata filien yang berarti cinta dan sofia “ kebijaksanaan.Jadi menurut namanya saja  filosofia tau filsafat berarti  cintakepada kebijak sanaan . dan orangnya di sebut filosofos yang artinya kebijaksanaan.nama ini di beri arti dengan tegas oleh ahli piker yunani Sokrates (469-399) terutama untuk menentang kaum sofis, yang menamai dirinya para bijaksan (sofos). Sokrates bermaksud, bahwa ia dan penganut-penganutnya bukan orang yang sudahbijasana dan telah mencapi pengetahuan sejati (pengetahuan yang benara), melainkan hanya mencintai kebijaksanaan, dari pada itu berusaha mencarai kebijaksanaan itu.
Bagian-bagian Filsafat
1.      Ontologia
2.      Theologianatu
3.      Cosmologi
4.      Anthropologia
5.      Ethica
6.      Logica
1.3. Ilmu, Filsafat, dan Agama
Filsafat dan ilmu ada hubungannya, karena di dalam filsafat penyelidikan yang dilakukannya  mulai dari apa yang dilakukan manusia, karena tidak ada pengetahuan, pengetahuan itu sendiri berawal dari ilmu, maka harus berhubungan dulu dengan indra. Sedangkan ilmu yang hendak menelaah hasil pengindraan itu tidak mungkin mengambil keputusan dengan menjalankan pikiran tanpa mempergunakan dalil dan hukum pikiran yang tidak mungkin dialaminya. Sebaliknya filsafat pun memerlukan data ilmu. Jika ahli filsafat hendak menyelidiki dan hendak menentukan apakah manusia itu, ia harus mengetahui gejala tindakan manusia. Dalam hal ini dibutuhkan yang namanya ilmu Psikologi yang akan menolong filsafat itu sebaik-baiknya dengan hasil penyelidikan.
Ada alat penerangan lain selain Budi,  yaitu Agama yang biasa disebut Wahyu.adapun hal Agama ini amat sulit juga menentukannya. Dalam pandangan ini ditegaskan, bahwa yang dimaksudkan Agama ialah Keseluruhan pendapat tentang Tuhan, Dunia, Hidup, dan Mati, Tingkah laku serta Baik-buruknya yang berlandaskan Wahyu. Yang dimaksudkan Wahyu ialah Penerangan Tuhan secara istimewa kepada manusia, entah secara langsung, entah secara tidak langsung (Misalnya mmelalui wakil atau uusannya). Dalam  ikhtisar ini jelas ada hal-hal yang merupakan kebenaran Agama menjadi bagian Filsafat, Misalnya teodicea atau teologia naturalis dan juga etika.


1.4. Persoalan Pengetahuan
Dalam hal ini yang paling dianggap penting adalah soal kebenarannya dan serta bagaimana manusia mencapai pengetahuan itu. Dimana ada pengetahuan harus ada obyeknya, namun para ahli filosuf tidak semua menerima semua pernyataan tersebut. Dengan faktanya bahwa pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu pengetahuan khusus (mengenai yang khusus, satu per satu, berubah-ubah dan tidak tetap) dan pengetahuan umum (mengenai yang umum, jadi seluruh macamnya, tidak satu per satu, sifatnya tetap, tidak berubah).
Pendapat para  ahli :
1. Herakleitos (535-475)
Oleh karena alam, sumber pengetahuan dan dari pada itu obyek pengetahuan juga, semuanya tak tetap,dan berubah, makan pengetahuan yangb sifatnya berubah-ubah dan tidak tetap itulah yang sesuai dengan obyeknya, jadi pengetahuan khususlah yang benar. Karena pengetahuan ini dicapai orang melalui indra.
2. Paramenides (540-475)
Dia berpendapat bahwa pengetahuan umumlah yang benar, yang disebutnya pengetahuan budi. Pengetahuan budi ini memang sesuai dengan obyeknya, sebab alam itu tetap, yang ada, bukan menjadi.
3. Plato (427-347)
Merupakan murid sokrates (469-399) yang amat mementingkan pengamatan. Menurut sokrates pengetahuan yang benar yang sifatnya tetap dan berlaku umum. Ia mengatakan bahwa pengamatan melalui indra itu merupakan jalan untuk mencapai pengetahuan yang disebutnya sejauh ini. Ini menjadi pegangan teguh bagi plato.
Menurut plato manusia terdiri dari dua hal, yaitu badan dan jiwanya. Jiwa itu dahulu ada di dunia idea dan oleh karena itu dikenal akan idea-idea yang ada disana dengan sesungguhnya, kemudian bersatu dengan badan sehingga merupakan manusia. Aliran plato disebut idealisme realistis.
4. Aristoteles
Menurut dia yang sungguh ada (realitas) adalah yang kongkrit, yaitu hal yang satu per satu dengan sifatnya yang tertentu. Pengetahuan yang kongkrit itu memang hasil pengetahuan indra sedangkan pengetahuan yang umum dihasilkan melalui indra juga tetapi dengan pengolahan lebih lanjut oleh manusia.
Pertentangan antara pengetahuan umum (budi) dan pengetahuan khusus (indra). Ada dua dua pendapat yang saling berhadapan : ada yang mengatakan bahwa pengetahuan budi yang benar, sedangkan dilain pihak ad pula yang mengatakan, bahwa hanya pengetahuan indra saja yang benar. Seorang ahli pikir bangsa Jerman Immanuel Kant pengamatan dalah syarat mutlak bagi pengetahuan, isi dari pengetahuan baik yang khusus maupun yang umum dari objek, tetapi  bentuknya dari subjek.
Beberapa aliran yang terkenal serta berpengaruh dalam filsafat dewasa ini:
a.       Idealisme   ini berkembang di  negara Jerman terutama diutarakan oleh filsuf J.G. Ficht (1762-1814). Idealism e Ficht ada yang lebih suka menamai subjektivisme, karena objek itu adanya demi subjek. Dalam umunya idealism ini mengurangi atau menghilangkan realitas dunia sehingga walaupun secara tidak langsung mengurangi atau menghilangkan kebenaran pengetahuan khusus
b.      Positivisme ini di pelopori oleh A. Comte (1798-1857). Cara pendekatan ini hanya yang positif dapat dialami saja yang benar, ilmu yang tidak positi atau negatif itu bukan ilmu yang sebenarnya. Inilah yang membuat kebalikan dari idealisme, positivisme disini hanya mengakui nilai pengertahuan indra.
c.       Materialisme adalah pendekatan pandangan secara positif yang amat dekat kepada pandangan yang timbul. Pengetahuannya ialah pengelaman, arah tujuannya ialah cenderung alamnya, cenderung akan hidup.
d.      Sekarang ini yang di persoalkan ada tidaknya objek itu, maka aliran ini memperoleh nama idealisme disatu pihak dan realism belaka atau materalisme di lain pihak. Idealism mengingkari realitas alam, materialisme hanya menerima realitas alam, alam itu satu-satunya realitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar